Perayaan Migrant Day: PPMLN UT Beri Literasi Digital Bagi Pekerja Migran Indonesia

webinar.png

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin marak, tidak bisa kita pungkiri, semakin berkembang pula pola penggunaan media sosial. Saat ini media sosial tidak lagi difungsikan sebagai alat komunikasi, tapi juga sarana untuk berekspresi, berpendapat, bekerja dan belajar. Namun, sangat disayangkan, fakta dilapangan menunjukkan masih banyak masyarakat dan khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang belum memanfaatkan media sosial sesuai etika yang benar.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita, Kartika Damayanti? Seorang PMI di Singapura yang sempat tersandung kasus hukum karena penggunaan media sosial dengan komentar kasar, ujaran kebencian, dan cyberbullying terhadap anak dari seorang publik figur di Indonesia.

Untuk itulah, dalam menyambut Internasional Migrant Day 2021, Pusat Pengelolaan Mahasiswa Luar Negeri (PPMLN) Universitas Terbuka bekerjasama dengan mahasiswa dan alumni Universitas Terbuka di seluruh penjuru dunia seperti Hongkong, Belanda, Taiwan, Korea, Arab Saudi, Malaysia dan Jepang menyelenggarakan webiner dengan tema “Literasi Digital Dalam Penggunaan Media Sosial bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI)”, pada tanggal 17 Desember 2021.

Webinar yang dilaksanakan secara daring ini, menghadirkan dua orang narasumber yang sangat berkompeten, yaitu Bapak Usman Kansong, S.Sos.,M.Si, selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, dan Ibu Anis Hidayah, SH.,MH, peneliti Migran Care. Selain menggunakan aplikasi zoom meeting, webinar ini juga ditayangkan secara live dari youtube UT TV.

webinar_2.jpg

Dr. Pardamean Daulay selaku kepala PPMLN UT menjelaskan bahwa peserta webinar berasal dari berbagai profesi, namun sebagian besar adalah PMI yang sekaligus mahasiswa UT layanan luar negeri sebanyak 2.245 orang dan tersebar di 45 negara. Beliau menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Wakil Rektor UT Bidang Sistem Informasi dan Kemasiswaan, Ir. Adi Winata, M.Si, yang seyogyanya akan membuka acara webinar ini, namun  dalam waktu yang bersamaan beliau harus mengikuti kegiatan yang tidak bisa diwakilkan. Kegiatan webinar ini “diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang digital literasi yang baik bagi PMI agar memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menggunakan media sosial dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sosial sehari-hari.” Kata Kepala PPMLN UT saat memberikan sambutan dan membuka kegiatan webinar literasi digital”.

webinar_3.jpg

Dalam pemaparannya, Bapak Usman Kansong, S.Sos. M.Si, menyampaikan media sosial sering dipergunakan oleh PMI untuk sarana komunikasi dengan keluarga di tanah air. Mengisi ruang digital dengan konten positif seperti kegiatan masak memasak di negara penempatan. Kesiapan masyarakat untuk menghadapi transformasi digital perlu ditingkatkan. UU ITE No.11 Tahun 2008 adalah regulasi dalam bermedia sosial. Upaya yang telah ditempuh Kominfo yaitu program literasi digital, yaitu pemberian edukasi atau wawasan terkait pemanfaatan internet serta klarifikasi atau kontranarasi terhadap sebuah isu. Melek teknologi bagi seorang PMI merupakan suatu keharusan, namun untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, bijaklah menggunakan media sosial dengan cara “Saring sebelum sharing”, harapanya.

webinar_4.jpg

Sementara itu, Anis Hidayah, SH.,MH, menyampaikan bahwa tidak salah memang, menyatakan opini, pendapat di media sosial yang notabene memang disediakan untuk berbagi. Apalagi bagi seorang PMI, media sosial merupakan hiburan bagi mereka yang tinggal dan bekerja jauh dari keluarga yang mereka cintai. “Mau tidak mau, mereka harus menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan keluarga yang jauh, posting poto, curhat, hingga menyampaikan mimpi mereka di media sosial”, terangnya.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) terlebih perempuan memang sangat rentan sekali bergesekan dengan yang namanya transnational crime. Bukan hanya isu UU ITE yang bisa menjerat seorang PMI namun juga isu pemahaman radikalisme yang sempat viral juga narkoba dan jaringan terorisme. Dan kasus kasus tersebut muncul ke permukaan karena mereka bersentuhan dengan media sosial. Ya, yang awalnya hanya ingin ‘menghibur’ diri dengan media sosial, justru mereka rentan menjadi korban transnational crime. Mereka ini adalah korban ‘empuk’ bagi para pemangku kepentingan di luaran sana. Salah satu jalan keluar dari semua permasalahan tersebut adalah dengan literasi digital. Para PMI perlu diberikan pemahaman yang mendetail terkait penggunaan media sosial. Apa yang perlu dan tidak perlu ditampilkan di media sosial. Sudah banyak kita temui PMI yang sukses dalam penggunaan media sosial dengan menjadi Youtuber terkenal, bahkan earning money dari media sosial. “Tinggal bagaimana bijaknya kita dalam menggunakan media sosial.” Paparnya.  

Kontributor: Pardamean Daulay